Assalamualaikum!
Halo semuanya!
Been awhile ya, hahahaha.
Kebanyakan post isinya tentang bahasa Jepang, karena ya to be honest lagi stuck, bingung mau nulis apa. Setelah ratusan purnama gak nulis. Jadi budak korporat. Ngerasa somehow ide di kepala tumpul. Ruwet.
Apalagi sekarang ada AI, yang apa-apa tinggal tulis prompt dan voila~ langsung ada, langsung jadi. Fungsi otak kita digantiin sama algoritma yang sebenernya niru cara kerja otak manusia.
Well, berhubung bingung kan, jadi mau sharing aja akhir-akhir ini cukup mengusik isi kepala.
Blessing in disguise
Okay, for background story, my dad passed away in 2021. Untuk para reader setia, rasanya pada tau kalau dulu saya sempat tinggal di Osaka. Well, my dad was sick with lung cancer. Can’t be really surprised since he was such a heavy smoker. Long story short, saya mutusin buat balik for good ke Indonesia. Which is a decision yang sangat saya syukuri sampai saat ini.
To be honest, saya bersyukur dengan penyakit yang diidap ayah saya, dan juga bagaimana dia berpulang saat masa-masa covid. My dad was far from what people usually consider as a good father. Well, me, myself, am also far from what they call a good daughter. Karena dunia yang serba sibuk ini, kami jarang sekali berinteraksi. Tapi berkat kanker yang menerpa, ayah saya jadi punya waktu.
Dia sempat mengunjungi saya di Osaka untuk mencari opsi pengobatan kanker di Jepang. Pada saat itu dia tinggal bersama saya. Can you imagine the two people that were rarely talk to each other forced to live together in a quite cramped apartment in Osaka? LOL.
It was a disaster at first, but, yeah, we managed.
Rasanya Allah memberikan kesempatan buat kami berdua untuk merasakan dinamika hubungan ayah-anak yang normal. As if Allah gave him a chance to pay, for the all time he wasn’t there for me when I was still a teenager.
Setelah saya kembali ke Indonesia-pun, Allah kasih kesempatan saya untuk merawat dia, gak banyak sih, soalnya banyakan dia dirawat inap di RS. Dan itu pas covid, jadi ya both me and my mom couldn’t really stay with him at the hospital.
Saat ayah saya berpulang-pun, di masa-masa covid. Jadi, kami sekeluarga bisa mourning properly. Tanpa harus meladeni banyak tamu. Orang-orang yang mungkin akan menangis, terlihat sangat sedih, padahal ya sebenernya gak deket-deket amat. Berakhir kami pihak keluarga malah harus comfort para tamu. Kan aneh.
For this, I am grateful. For my dad’s cancer, for his passing.
For everything. Alhamdulillah.
Kematian bukanlah akhir
Sebagai muslim, ya paham banget kalau kematian bukanlah akhir. Tapi yang mau saya bahas disini bukan itu. Melainkan birokrasi administrasi, haha.
Untuk kalian yang belum pernah ngerasain ditinggal meninggal, mungkin mikirnya ketika ada orang terdekat yang berpulang, berduka, menangis, dikubur, dan selesai.
NOPE.
Kenyataannya gak gitu.
Semisal meninggalnya di RS, gak kayak di sinetron atau drama-drama. Dimana kita sebagai keluarga bisa menangis puas, lalu jenazah dibawa pulang ke rumah duka.
Ada surat keterangan kematian yang harus diurus, ada tagihan RS yang harus dilunasi dulu, dan serentetan birokrasi lainnya.
Ketika ayah saya berpulang, kami kakak beradik bagi-bagi tugas. Tugas saya memastikan kondisi ibu saya. Sedangkan kakak laki-laki sayalah yang bolak-balik mengurus administrasi.
Setelah keluar RS apakah sudah selesai?
TENTU TIDAK.
Untuk mendapatkan lahan pemakaman, pengurusannya juga tidak mudah. Utamanya di Jakarta, yang lahannya sudah sangat terbatas. Ada banyak birokrasi yang harus diurus, tentunya juga memerlukan biaya yang tidak sedikit.
Jadi, kalau sudah dikubur, apakah sudah selesai?
TERGANTUNG
Kalau yang berpulang tidak meninggalkan aset (harta ataupun hutang), mungkin ya sudah selesai.
Kalau ada hutang, ya sebagai ahli waris harus membayarkan hutangnya.
Berarti, kalau gak ada hutang, harusnya udah selesai?
Ya gak juga.
Semisal ada aset yang ditinggalkan, dan aset tersebut masih atas nama almarhum/almarhumah, harus diurus surat ‘Surat Pernyataan Ahli Waris‘ dari kelurahan. Fungsinya untuk menyatakan siapa-siapa aja ahli waris yang sah dan legal secara hukum dari almarhum/almarhumah.
Dan yang lucunya, ternyata ngurus surat itu tergantung ras juga. Kalau kayak saya, pribumi, alhamdulillah gak seribet Chindo ataupun turunan Arab. Selama ini saya kira pembedaan ras kayak gitu cuma ada di Malaysia. Gak taunya Indonesia juga.
Abis dari situ, dibuat lagi ‘Surat Kesepakatan Ahli Waris’, fungsinya buat menyatakan itu aset yang tertinggal mau diapain, dan siapa yang ngurusin. Kan gak mungkin semua ahli waris turun tangan buat ngurus. Setelah ini pun, tergantung aset yang ditinggalkan, masih ada rentetan urusan birokrasi lainnya.
Urusan aset selesai, apa udah kelar?
KAGAK. HAHA.
Kalau dikuburnya bukan di tanah milik pribadi, ada biaya sewa yang harus dibayarkan, ada birokrasi yang harus diurus. Sepaham saya, kalau di TPU pemerintah, ngurusnya 3 tahun sekali.
So, yeah, even masih di dunia sekalipun, kematian bukanlah akhir.
Taken for granted
Alhamdulillah saya terlahir di keluarga yang cukup. Bukan kaya raya, tapi cukup. Masih punya hutang sana sini, tapi alhamdulillah kredit lancar. Gak ada pinjol juga 🙈
Saat ayah saya masih hidup (pasca kanker), beliau suka jalan pagi ke pasar, pulang-pulang bawa sarapan untuk saya dan ibu. Setelah ayah saya meninggal, saya baru tersadar, oh ya, sekarang saya harus bayar makan sendiri. Yeah, I know, that now I sound like a super spoiled brat. Dan mungkin memang saya sheltered.
Dulu beli makanan di warteg tinggal bilang mau apa. Soalnya yang bayar ayah saya, hahaha. Sekarang, ya bayar sendiri.
Hal lainnya yang saya baru rasakan sekarang itu, pemenuhan kebutuhan rumah. Kalau tagihan listrik, air, wifi, dsb, itu ya jelas. Hal yang insyaAllah udah sama-sama tau harus dibayar tiap bulannya.
Hal lain yang cukup bikin kaget itu, perintilan rumah seperti karbol, pembersih lantai, detergen, sapu, pel, dsb. Ternyata gak murah 🤣
Banyak banget hal-hal taken for granted, yang dirasa normal, selayaknya udara untuk manusia, yang ternyata itu dihadirkan dengan susah payah oleh ayah saya.
Well, jadinya banyakin ngomongin ayah saya ya hahaha.
Jarang-jarang kan. Mumpung tau lagi mau nulis apa. Biar gak muak bahas bunpo mulu kan, LMAO.
Samapi berjumpa lagi, semoga postingan ini membawa manfaat.







Leave a comment